
Lelaki dan wanita ibarat logika dan perasaan, yang dimana keduanya sulit untuk bersatu. Saya berkata 'sulit' bukan tidak bisa. Mengapa? Karena ada saatnya logika bisa bersinggungan dengan perasaan.
Mengapa lelaki diibaratkan dengan logika sedangkan wanita dengan perasaan? Karena itulah isi otak, mental, dan hati dari masing-masing jenis kelamin tersebut yang dapat menentukan sikap apa yang semestinya mereka lakukan jika saling bertemu dan berhubungan.
Logika dimana hanya mengatakan dua sisi, yes or no, right or wrong, take it or leave it, dan masih banyak lagi (tentunya yang hanya terdapat dua opsi di dalamnya). Dimana logika adalah premis-premis yang bersatu menjadi sebuah kesimpulan yang tidak dapat digoyahkan meski dengan perasaannya sendiri.
Berbeda dengan perasaan. Dimana ketika ia memutuskan untuk berkata 'ya' atau 'tidak', ia akan memikirkan kembali hal yang sudah diputuskan itu, dengan melihat perasaannya kembali. Perasaan ini tidak hanya perasaan pribadinya, namun perasaan orang yang akan menghadapi keputusannya. Di sinilah letak ketidakseimbangannya sehingga mengakibatkan wanita terkadang berada di bawah pria. (tidak bermaksud menyinggung perasaan wanita, namun saya justru akan menjunjung tinggi dalam bacaan selanjutnya) Perbedaan yang sangat tegas itulah yang dapat mengakibatkan mereka sulit untuk bersatu, karena logika tidak dapat bercampur dengan hati dan begitu pula perasaan, tidak bisa sikap kita menentukan ya atau tidak jika perasaan tidak mendukung. Perbedaan inilah yang harus saling dipenuhi antara sepasang pria dan wanita yang akan memadu kehidupan.
Contoh konkritnya, kasus pemutusan hubungan yang dilakukan remaja cowo dan cewe. Saya akan menjabarkannya dengan tahap-tahapnya:
1. Hubungan cowo dan cewe ini sudah berlangsung lama. Mereka sudah memadu kasih dengan setinggi-tingginya, seromantis-romantisnya. Hingga pada satu titik jenuh yang dialami cowo.
2. Si cowo bosan dengan hubungannya dengan cewenya. Cowo mulai melakukan penjauhan diri dari si cewe (dalam pikiran cowo, cewe pasti bisa lebih bisa menerima putus yang tidak langsung putus, tetapi dimulai dengan peregangan hubungan)
3. Si cewe akan berusaha membetulkan hubungan dengan cara apapun. Mengapa??
Sebelum kembali ke tahap selanjutnya, kita membahas dahulu bagaimana perasaan masing-masing jenis kelamin terhadap lawan jenisnya. Berdasarkan penelitian, rasa cinta lelaki terhadap wanita yang dicintainya berada di kisaran awal 100 hingga 0. Maksud dari pernyataan ini adalah, ketika lelaki berusaha mendapatkan cinta wanitanya (pendekatan), lelaki akan berusaha semaksimal mungkin mengagung-agungkan wanitanya karena saat itulah saat dimana lelaki memiliki angka 100 untuk pasangannya. Seiring berjalannya hubungan, nilai angka akan berubah hingga menjadi nol. Di sanalah titik jenuh lelaki pada hubungannya. Sementara wanita, rasa cintanya berkisar dari 0-100 (kebalikannya). Ketika wanita didekati oleh pria, tentunya ia belum sepenuhnya yakin bahwa ia cinta padanya, disanalah angka 0 itu ada. Hingga berjalannya suatu hubungan yang lebih jauh, dimana lelaki meninggi-ninggikan wanitanya. disanalah perasaan wanita bisa mencapai angka 100. Di sanalah sebab dari mengapa cewe selalu berusaha membetulkan hubungan dengan cara apapun hingga akhir hubungannya..
4. Cowo akan berpikir, "percuma, mau segimana-gimananya kamu ke saya, saya tidak akan mencintai kamu lagi, toh saya sudah bosan dengan kamu!" (logika yang tidak dapat melawan perasaan sudah terlihat)
5. Hingga akhir hubungan, yang akan menderita adalah pihak wanita karena perasaannya seakan dikalahkan oleh logika cowonya yang tidak dapat di ubah dengan cara apapun.
Dari contoh di atas, bisa dilihat bahwa, ketika lelaki memutuskan sesuatu, ia tidak akan perduli sekelilingnya dan akan berbuat sesuai keputusannya, sedangkan wanita tidak akan selalu setuju terhadap keputusan awal lelaki dan selalu mengedepankan perasaannya terlebih dahulu.
Terlihat bukan bagaimana sulitnya menyatukan logika dan perasaan? Untuk dapat menyatukannya, mungkin bisa lebih memperdalam perkenalan awalnya. Kenalilah dulu siapa yang akan di dekati dan yang mendekati dengan lebih dalam untuk memulai suatu hubungan. Sesungguhnya menyatukan kedua hal tadi merupakan hal yang sulit.
Dari post ini, saya hanya ingin menghimbau khususnya bagi kaum wanita. Mau bagaimana pun, hubungan selain dari pernikahan adalah hubungan yang rentan. Anda bisa dengan mudah disakiti terus-menerus oleh pria yang belum tentu menjadi pendamping hidup anda. Terkadang logika akan selalu menang melawan perasaan. Maka, jagalah perasaan anda untuk lelaki yang memang benar-benar logikanya bisa menyatu dengan perasaan anda.
Mengapa lelaki diibaratkan dengan logika sedangkan wanita dengan perasaan? Karena itulah isi otak, mental, dan hati dari masing-masing jenis kelamin tersebut yang dapat menentukan sikap apa yang semestinya mereka lakukan jika saling bertemu dan berhubungan.
Logika dimana hanya mengatakan dua sisi, yes or no, right or wrong, take it or leave it, dan masih banyak lagi (tentunya yang hanya terdapat dua opsi di dalamnya). Dimana logika adalah premis-premis yang bersatu menjadi sebuah kesimpulan yang tidak dapat digoyahkan meski dengan perasaannya sendiri.
Berbeda dengan perasaan. Dimana ketika ia memutuskan untuk berkata 'ya' atau 'tidak', ia akan memikirkan kembali hal yang sudah diputuskan itu, dengan melihat perasaannya kembali. Perasaan ini tidak hanya perasaan pribadinya, namun perasaan orang yang akan menghadapi keputusannya. Di sinilah letak ketidakseimbangannya sehingga mengakibatkan wanita terkadang berada di bawah pria. (tidak bermaksud menyinggung perasaan wanita, namun saya justru akan menjunjung tinggi dalam bacaan selanjutnya) Perbedaan yang sangat tegas itulah yang dapat mengakibatkan mereka sulit untuk bersatu, karena logika tidak dapat bercampur dengan hati dan begitu pula perasaan, tidak bisa sikap kita menentukan ya atau tidak jika perasaan tidak mendukung. Perbedaan inilah yang harus saling dipenuhi antara sepasang pria dan wanita yang akan memadu kehidupan.
Contoh konkritnya, kasus pemutusan hubungan yang dilakukan remaja cowo dan cewe. Saya akan menjabarkannya dengan tahap-tahapnya:
1. Hubungan cowo dan cewe ini sudah berlangsung lama. Mereka sudah memadu kasih dengan setinggi-tingginya, seromantis-romantisnya. Hingga pada satu titik jenuh yang dialami cowo.
2. Si cowo bosan dengan hubungannya dengan cewenya. Cowo mulai melakukan penjauhan diri dari si cewe (dalam pikiran cowo, cewe pasti bisa lebih bisa menerima putus yang tidak langsung putus, tetapi dimulai dengan peregangan hubungan)
3. Si cewe akan berusaha membetulkan hubungan dengan cara apapun. Mengapa??
Sebelum kembali ke tahap selanjutnya, kita membahas dahulu bagaimana perasaan masing-masing jenis kelamin terhadap lawan jenisnya. Berdasarkan penelitian, rasa cinta lelaki terhadap wanita yang dicintainya berada di kisaran awal 100 hingga 0. Maksud dari pernyataan ini adalah, ketika lelaki berusaha mendapatkan cinta wanitanya (pendekatan), lelaki akan berusaha semaksimal mungkin mengagung-agungkan wanitanya karena saat itulah saat dimana lelaki memiliki angka 100 untuk pasangannya. Seiring berjalannya hubungan, nilai angka akan berubah hingga menjadi nol. Di sanalah titik jenuh lelaki pada hubungannya. Sementara wanita, rasa cintanya berkisar dari 0-100 (kebalikannya). Ketika wanita didekati oleh pria, tentunya ia belum sepenuhnya yakin bahwa ia cinta padanya, disanalah angka 0 itu ada. Hingga berjalannya suatu hubungan yang lebih jauh, dimana lelaki meninggi-ninggikan wanitanya. disanalah perasaan wanita bisa mencapai angka 100. Di sanalah sebab dari mengapa cewe selalu berusaha membetulkan hubungan dengan cara apapun hingga akhir hubungannya..
4. Cowo akan berpikir, "percuma, mau segimana-gimananya kamu ke saya, saya tidak akan mencintai kamu lagi, toh saya sudah bosan dengan kamu!" (logika yang tidak dapat melawan perasaan sudah terlihat)
5. Hingga akhir hubungan, yang akan menderita adalah pihak wanita karena perasaannya seakan dikalahkan oleh logika cowonya yang tidak dapat di ubah dengan cara apapun.
Dari contoh di atas, bisa dilihat bahwa, ketika lelaki memutuskan sesuatu, ia tidak akan perduli sekelilingnya dan akan berbuat sesuai keputusannya, sedangkan wanita tidak akan selalu setuju terhadap keputusan awal lelaki dan selalu mengedepankan perasaannya terlebih dahulu.
Terlihat bukan bagaimana sulitnya menyatukan logika dan perasaan? Untuk dapat menyatukannya, mungkin bisa lebih memperdalam perkenalan awalnya. Kenalilah dulu siapa yang akan di dekati dan yang mendekati dengan lebih dalam untuk memulai suatu hubungan. Sesungguhnya menyatukan kedua hal tadi merupakan hal yang sulit.
Dari post ini, saya hanya ingin menghimbau khususnya bagi kaum wanita. Mau bagaimana pun, hubungan selain dari pernikahan adalah hubungan yang rentan. Anda bisa dengan mudah disakiti terus-menerus oleh pria yang belum tentu menjadi pendamping hidup anda. Terkadang logika akan selalu menang melawan perasaan. Maka, jagalah perasaan anda untuk lelaki yang memang benar-benar logikanya bisa menyatu dengan perasaan anda.







